Jumat, 01 Februari 2013

Pengertian Akuntansi Persediaan

AKUNTANSI PERSEDIAAN

A. Pengertian umum
  • Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan bangunan.
  • Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual.
Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).
Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.
Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).
HPP = PERSEDIAAN AWAL+ PEMBELIAN BERSIH – PERSEDIAAN AKHIR
a. Inventory perusahaan dagang

Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang, atau dapat dikatakan tidak ada proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual kembali oleh perusahaan.
b. Inventory perusahaan industry

Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi atau mungkin menjadi bahan baku bagi perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses usaha utama perusahaan.
Misalnya : Perusahaan industri permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani atau perkebunan, diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya. Sedangkan perusahaan industri kain bahan bakunya adalah benang yang diolah menjadi kain sebagai barang jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi membutuhkan bahan baku kain dan seterusnya.
Dengan gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
  1. Bahan baku (direct material)
  2. Barang dalam proses ( Work in proses)
  3. Barang jadi (Finished goods)
B. Jenis-jenis persediaan
a. Bahan baku
Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkannya pihak Pemasok serta tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan produksi.
b. Barang dalam proses
Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian barang jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya produksi. Dalam rangka memperpendek waktu produksi salah satu cara adalah dengan menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa dipercepat. Cara laian adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.
c. Barang jadi
Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan dengan cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk resiko yang kecil (marginal risk). Tetapi tidak peduli apakah barang-barang tercatat sebagai persediaan atau sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk menuju realisasi kas tinggal satu langkah saja. Dan laba potensial dapat menutup tambahan resiko penagihan piutang.
Dari uraian tersebut dapat kita artikan bahwa dalam proses akuntansi persediaan, persediaan memerlukan adanya penilaian (valuation), karena persediaan merupakan bagian dari cost yang akan dimatch dengan revenue, dan akan menghasilkan income dan penyajian laporan arus kas.
Dengan melihat sifat-sifat dasar persediaan dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan dan tujuan serta konsep dasar akuntansi, maka persediaan merupakan input values. Metode tersebut merupakan salah astu konsep penilaian terhadap inventory yang akan menjadi dasar dalam penyajian di neraca.
Penekanan pembahasan tujuan teori akuntansi terhadap inventory, adalah menentukan alternative pedoman untuk mengevaluasi prosedur yang dapat memberikan penilaian (pengukuran) yang lebih baik dan memberikan informasi yang lebih baik tentang arus kas perusahaan dikemudian hari. Beberapa dasar pengukuran inventory dari segi kadar interpretasi dan revaluasi bagi pengambil keputusan investasi.
C. Tujuan penilaian inventory
Pertama adalah dalam upayanya untuk mematch cost terhadap revenue yang berkaitan, sehingga dihasilkan income, proses ini merupakan tujuan dasar akuntansi tradisional. Penekanan pada perhitungan net income yang didasarkan kepada revenue pada saat penjualan memerlukan adanya alokasi biaya ke peiode dimana revenue dilaporkan yaitu cost of goods sold. Sedangkan nilai inventory yang belum terjual akan dibawa ke periode berikutnya dalam laporan keuangan perusahaan. Jadi dalam proses pengukuran income sangat mirip dengan ciri-ciri umum pada penilaian prepaid expense dan aktiva tetap atau disebut penangguhan expenses, yaitu atas dasar input prices, kemudian untuk menentukan nilai cost of goods sold dapat juga dilakukan melalui perhitungan (rumus) yang lazim digunakan dalam persediaan. Namun demikian dalam keadaan tertentu persediaan dinilai berdasarkan output values (harga jual) untuk memperoleh penilaian income.
Tujuan kedua pengukuran inventory lainnya adalah untuk menyajikan nilai barang-barang perusahaan didalam komponen neraca (laporan keuangan).
Tujuan ketiga pengukuran inventory adalah membantu investor untuk memprediksi arus kas dikemudian hari, yaitu dipandang dari jumlah inventory sebagai resources yang akan mendukung arus kas dan jumlah inventory yang akan dijual kemudian hari dan akan mempengaruhi arus kas keluar.
D. Penentuan kuantitas persediaan
Untuk menentukan jumlah barang yang masih dikuasai oleh perusahaan pada suatu saat dapat ditentukan melalui beberapa cara yaitu:
  1. Stock opname: perhitungan barang pada awal dan akhir periode yang dihitung, cara ini merupakan ketentuan yang harus dilakukan oleh manajemen untuk menentukan jumlah persediaan akhir, sebagai salah satu persyaratan memperoleh unqualified opinion.
  2. Menggunakan metode pencatatan perpetual.
  3. Menggunakan metode gabungan antara metode pencatatan perpetual dengan stock opname.
  4. Menggunakan metode penilaian berdasarkan hubungan agregatif, yaitu gross profit method dan realized inventory method.
Penyajian laporan laba rugi dapat dibuat dalam dua bentuk, yaitu all inclusive concept of income (AICI) dan current operating concept of income (COCI). Dari kedua metode tersebut metode penyajian yang banyak mengandung kelemahan untuk penyajian persediaan adalah AICI, kelemahan-kelemahan tersebut dapat kita lihat sbb:
  1. a.      Metode stock opname atau periodic method:
    Persediaan yang merupakan komponen cost of goods sold (CGS) maka perhitungan kuantitas persediaan yang dilakukan dengan stock opname tergantung dari kelengkapan data/catatan dan perhitungan barang. Dengan cara ini perhitungan persediaan yang dibebankan pada CGS ada kemungkinan overstatement, karena hanya membandingkan dan menghitung jumlah barang yang dimiliki dikurangi dengan persediaan akhir. Sehingga kalau terjadi adanya barang yang hilang, rusak, menguap, turun kualitasnya dsb, maka hal ini bila tidak terungkap akan menyebabkan laporan laba – rugi tidak atau kurang informative. Karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya diperlukan sebagai kerugian extraordinary item, kemudian dengan perhitungan stock opname secara berkala tidaklah cukup sebagai dasar pembuatan keputusan yang bersifat manajerial secara cepat.
  1. b.      Metode perpetual
    Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada saat menentukan nilai dan jumlah barang, karena dengan metode pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo persediaan setiap saat dapat diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung jumlah barang bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement, karena adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam menentukan jumlah inventory adalah kalau menggunakan metode gabungan antara metode perpetual dengan stock opname.
  2. c.       Metode agregatif
    Dalam metode ini kesulitannya sama dengan kesulitan yang dialami metode perpetual, kalau dalam hal pembahasannya adalah masalah penentuan harga persediaan. Dalam metode ini juga lebih tepat kalau penentuan jumlah dan nilai persediaan dikombinasi dengan stock opname.
E. Dasar penilaian persediaan
Penilaian persediaan pada prinsipnya ada dua yaitu input values dan output values, sedangkan kedua konsep tersebut dapat digunakan sesuai dengan siapa pemakainya dan tujuannya. Kalau untuk pembuatan prediksi arus kas dikemudian hari lebih relevan kalau digunakan output values, karena akan mencerminkan nilai perusahaan pada saat itu. Sedangkan kalau kondisi nilai konversi tidak pasti seperti kondisi di Indonesia tahun 1997 lebih relevan kalau digunakan input values, karena akan memungkinkan interpretasi yang lebih baik sebagai prediksi arus kas dikemudian hari untuk memperoleh persediaan kembali.
a. Output values
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa persediaan merupakan komponen yang timbul diberbagai tingkatan proses produksi, yang pada umumnya memerlukan kegiatan bernilai ekonomis yang cukup besar, maka dengan metode input values lebih tepat. Tetapi dalam keadaan penentuan crucial event, yaitu menentukan pada saat persediaan diserahkan kepada langganan (penentuan nilai jual), maka lebih tepat kalau digunakan metode output values, karena memperhitungkan nilai current persediaan kalau dijual pada saat itu.
Untuk konsep output values ini ada 3 (tiga) konsep yang dapat digunakan yaitu:
Konsep Discounted Money Receipt: konsep ini menekankan pada, bahwa persediaan dapat dinilai dengan mendiskontokan arus kas dikemudian hari, dengan syarat:
  • Nilai atau tingkat harga stabil dan ada kepastian yang tinggi.
  • Timing penerimaan kas yang diharapkan cukup memberikan kepastian.
Current Selling Price: konsep ini menekankan nilai persediaan berdasarkan harga jual (pasar) sehingga diperlukan harga yang fixed, sehingga untuk konsep ini disyaratkan:
  • Adanya suatu pasar yang terkendali dengan harga yang stabil – tetap.
  • Tidak ada komponen biaya tambahan yang besar (material), misalnya biaya bunga atau diskonto dalam penerimaan hasil penjualan.
Net Realizable Values: dalam konsep ini perhitungan biaya yang timbul dari penjualan seperti diskon penjualan harus diperhitungkan dalam nilai penjualan bersih (Net Realizable Values). Maka konsep ini merupakan konsep current output values dikurangi dengan current values dari semua biaya tambahan, misalnya biaya penagihan, biaya penjualan.
Sprouse dan Moonitz menyatakan: “……..Inventory yang siap jual dengan harga yang telah diketahui dan biaya-biaya penjualan yang relative kecil atau biayanya dapat diketahui secara langsung, maka inventory dinilai dengan Net Realizable Values”, mereka menyatakan bahwa konsep ini bukan merupakan penyimpangan prosedur penilaian yang lazim melainkan harus dianggap “…….sejalan dengan tujuan akuntansi yang utama”.
Bulletin no. 43 menyatakan : “Hanya dalam kondisi khususlah, inventory dapat dinyatakan dengan nilai diatas cost”, dalam bulletin ini konsep cost merupakan konsep dasar utama bagi penilaian inventory. Jadi konsep Sprouse dan Moonitz sesuai dengan konsep current selling price diatas. Sedangkan konsep bulletin no. 43 disyaratkan :
  1. Kemungkinan pemasaran secara langsung harga yang di-quote.
  2. Barang dapat dipertukarkan (interchangeability of unit)
  3. Biaya tambahan dapat diperhitungkan
  4. Adanya unsur kesulitan menentukan penilaian cost secara tepat.
b. Input Values
Pengukuran persediaan dengan input values merupakan pengukuran resources yang dipakai untuk memperoleh persediaan pada kondisi saat ini, sehingga untuk persediaan yang tidak perlu adanya proses produksi interpretasi mengenai nilai persediaan (input values) sangat jelas. Karena input values disini menggambarkan arus dari pada kas yang telah dikeluarkan sesungguhnya. Sedangkan kalau input values tersebut dari nilai resources yang dipergunakan dalam proses produksi, hal ini akan lebih menyulitkan untuk menentukan input valuesnya, karena adanya proses penilaian resources ke periode yang bersangkutan dan pengalokasian resources ke dalam masing-masing departemen. Namun konsep ini dapat dikurangi tingkat kesulitan penilaiannya dengan penerapan prosedur alokasi costnya, yang hasilnya akan langsung menjadi investment decision model.
Dengan struktur akuntansi tradisional, selisih input dan output values merupakan gross profit atau gross margin, sehingga semua metode yang menganut konsep input values berarti adanya penangguhan pengakuan revenues dan net income keperiode kemudian. Penundaan ini dapat dibenarkan apabila masih ada kegiatan-kegiatan perusahaan yang harus dilakukan untuk pelaksanaan penjualan atau karena output tidak verifiable.
Konsep input values pada dasarnya dinyatakan dengan historical cost atau dapat juga dengan current cost atau standard cost. Current cost disini menggunakan konsep net realizable values dikurangi dengan normal gross margin dari net realizable values.
COMWIL: merupakan metode penilaian masukan karena istilah “market” pada dasarnya adalah konsep input values.
F. KONSEP PERSEDIAAN
a. Historical cost
Dalam metode historical cost ini persediaan diukur berdasarkan pada pembayaran yang dilakukan dimasa lalu atau harus dilakukan dimasa yang akan datang untuk memperoleh barang atau jasa. Oleh karena itu kalau pembayarannya dilakukan dimasa yang akan datang harga persediaan harus didiskontokan untuk mendapatkan present cost.
Menurut konsep ini biaya produksi terdiri dari Biaya langsung: material, tenaga langsung dan BOP, sedangkan avail atau tenaga kerja idle dapat diperhitungkan sebagai COGS, tergantung kebijakan manajemen.
Keuntungan konsep ini:
  1. Inventory bahan baku dan barang dagangan mencerminkan harga yang sebenarnya.
  2. Dalam kondisi harga tidak pasti konsep ini merupakan alternative yang layak daripada net realizable values sebagai alat prediksi.
  3. Nilai persediaan tidak dipengaruhi oleh bias kebijakan manajemen.
  4. Penilaian dengan cost memungkinkan pertanggung jawaban mengenai kas dan sumber lain untuk memperoleh persediaan (cross evidence).
Kelemahan konsep ini:
  1. Untuk persediaan barang yang cepat usang dan nilai tambah atas barang tidak dapat disesuaikan harganya.
  2. Bila terdapat harga yang berbeda susah untuk diperbandingkan.
  3. Banyaknya unsur joint cost dan metode alokasi sehingga menyulitkan penilaian persediaan.
  4. Matching antara revenue dengan cost masa lalu kurang tepat.
b. Current Replacement Cost
Konsep ini adalah untuk mengurangi kelemahan dari konsep historical cost, banyak penulis dan komite prinsip akuntansi menyarankan menggunakan konsep CRC untuk mengukur persediaan. Dengan pertimbangan:
  1. CRC memungkinkan untuk matching antara current input value dengan current revenue atas hasil current operation.
  2. CRC memungkinkan identifikasi dari holding gains dan loss.
  3. CRC merupakan current value dari persediaan.
  4. CRC memungkinkan pelaporan current operation profit dapat digunakan sebagai prediksi arus kas dikemudian hari.
d. Net Realizable Values Dikurangi Normal Markup
Dalam konsep ini persediaan dinilai dengan konsep realizable values dikurangi dengan gross profit margin yang normal, sehingga nilai persediaan merupakan nilai perolehannya menurut konsep realizable.
COMWIL
Penilaian dengan konsep comwil sebenarnya tidak konsisten, dan bukanlah penilaian inventory dengan dasar yang logis menurut teori akuntansi, tetapi lebih menekankan pada unsur conservatism. Menurut AICPA konsep comwil merupakan metode eclectical yang mencerminkan nilai keluaran dalam hal-hal tertentu dan nilai masukan pada kesempatan yang lain. Pengertian market disini bisa cost dan bisa replacement mana yang lebih rendah, sedangkan menurut AICPA bulletin no. 43 juga, bahwa market ini dibatasi nilai tertinggi (ceiling) dan terendah (floor) adalah batas untuk net realizable values, sehingga comwil memungkinkan penilaian yang sangat subyektif.
  1. d.      Standard cost
    Current standard mencerminkan biaya produksi dibawah kondisi harga dan teknologi yang sekarang dan formula ditetapkan setelah melalui perhitungan standard efisiensi yang diinginkan sehingga menyerupai replacement cost. Menurut AICPA bulletin no. 43 : “Standard cost dapat diterima apabila di-adjust secara berkala agar mencerminkan kondisi sekarang sehingga pada tanggal neraca standard cost secara layak merupakan approximate costs berdasarkan salah satu cara penilaian yang diakui.
G. BIAYA-BIAYA YANG HARUS DIMASUKAN DALAM PERSEDIAAN
Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa jumlah persediaan yang harus yang dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti aktiva lain, umumnya di perhitungkan atas dasar biaya.
a. Biaya produk
(product cost) adalah biaya yang” melekat” pada persediaan dan di catat dalam akun persediaan. Biaya-biaya ini berhubungan langsung dengan transfer barang kelokasi bisnis pembeli dan pengubahan barang tersebut ke kondisi yang siap di jual. Beban seperti itu mencakup ongkos pengangkutan barang yang di beli, biaya pembelian langsun lainnya, dan biaya tenaga kerja serta produksi lain nya yang dikeluarkan dalam memproses barang ketika dijual. Namun karna adanya kesulitan prak tis dalam mengalokasikan biaya dan beban, maka tidak dimasukkan dalam penilaian persediaan.
b. Biaya periode
beban penjualan (selling expenses) dan, dalam kondisi yang biasa, beban umum serta adminstrasi tidak dianggap berhubungan langsung dengan akuisisi atau produk si brang dan, karenanya, tidak dianggap sebagai bagian dari persediaan. Biaya semacam itu disebut dengan biaya periode secara konseptual, beban ini merupakan biaya dari produk eperti halnya harga beli awal dan ongkos pengangkutan.
Biaya bunga yang berhubungan dengan penyiapanpersediaan agar siap dijual biasanya di bebankan pada saat dikeluarkan. Arguman penting untuk pendekatan ini adalah bahwa biaya bunga merupakan biaya pembiayaan.
c. Biaya manufaktur
seperti telah dibahas sebelumnya, sebuah bisnis yang membuat barang mengunakan persediaan- bahan baku,barang dalam proses, barang jadi. Brang dalam proses dan brang jadi meliputi bahan, tenaga kerja langsung, da biaya overhead manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi bahan tidak langsung,tenaga kerja tidak langsung da pos-pos seperti penyusutan , pajak,asuransi, pemanas, dan listrik yang dibutuhkan dalam proses manufaktur.
H. ASUMSI ARUS BIAYA
Secara konseptual, identifikasi khusus atas pos-pos yang terjual dan pos-pos yang belum terjual optimal, tetap cara ini sering kali tidak haya mhal tetapi juga tidak mungkin untuk di terapkan. Sebagai akibatnya, beberapa Asumsi arus biaya yang bersifat sistematis dapat digunakan. Sebetulnya ,arus fisik barang aktual dan asumsi biaya sering kali sangat berbeda. Tidak ada keharusan bahwa asumsi arus biaya yang d pakai terus konsisten dengan pergeraan fisik barang. Tujuan utama dari pemiliahan asumsi arus biaya adalah untuk memilih asumsi yang paling mencerminkan laba periodik,sesuai kondisi yang berlaku.
a.Indentifikasi  khusus
Digunakan dengan cara mengidentifikasi seiap brang yang dijual dan dalam pos persediaan. Biaya barang” yang telah terjual dimaukan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya barang’ hsus yang masih berada di tangan dimasukan pada persedian. Metode ini hanya bisa digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahan memisahkan pembelian yang berbeda yag telah dilakukan secara fisik. Metod ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi yang melibatkan sejumlah kecil item berharga tinggi dan dapat dibedakan.
Dalam industri ritel hal ini meliputi beberapa jenis perhiasan, jas bulu, mobil, dan sejumlah furnitur. Dalam area manufaktur, meliputi produk pesanan, khusus dan banyak produk yang diproduksi menurut job cost system.
b. biaya rata-rata
metode biaya rata-rata menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam persediaan atas dasar biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia selama suatu periode.


I. Biaya Persediaan Manufaktur dan Dampak Peningkatan Produksi
Biaya persediaan manufaktur terdiri atas tiga komponen:
  1. Bahan baku atau bahan mentah-biaya dari bahan dasar yang digunakan untuk membuat produk.
  2. Tenaga kerja –biaya tenaga kerja langsung yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk jadi.
  3. Overhead- biaya tidak langsung pada proses manufaktur,seperti penyusutan peralatan manufaktur, gaji penyelia, dan biaya prasarana.
Perusahaan dapat mengistiminasi dua komponen pertama secara akurat dari spesifikasi rancangan  dan penelitian atas waktu dan pergerakan pada proses perakitan. Overhead sering kali merupakan komponen biaya produk terbesar dan paling sulit diukur untuk tingkat produk. Total overhead harus dialokasi pada seluruh hasil produksi.  Umumnya produk yang terbanyak menggunakan sumber daya (yaitu membutuhkan mesin mahal trbanyak atau memakai waktu rekayasa tertinggi) harus diberikan alokasi sebagian besar dari overhead. Biaya persediaan untuk perusahaan  manufaktur umumnya dipelajari pada mata kuliah akuntansi manajemen. Namun analis perlu waspada bahwa alokasi biaya overhead bukan merupakan ilmu pasti dan sangat tergantung pada asumsi yang digunakan.
Analisis juga perlu mengerti dampak tingkat produksi pda profitabilitas. Overhead dialokasi pada semua unit yang diproduksi, dan biaya ini dimasukan pada biaya persediaan, bukan menjadi beban periode berjalan, dan tetap berada pada neraca hingga prsediaan dijual,pada saat tersebut persediaan menjadi harga pokok penjualan pada laporan laba rugi. Jika peningkatan pada tingkat produksi menyebabkan persediaan akhir meningkat, lebih banyak biaya overhead yang tertinggal di neraca dan profibilitas meningkat.kemudian, saat kuantitas persediaan menurun, laporan laba rugi terbebani dengan bukan hanya biaya overhead periode berjalan, tetapi juga biaya overhead periode sebelumnya yang berasal dari persediaan tahun berjalan, karenanya laba menjadi turun. Oleh karna itu, analis harus waspada terhadap dampak perubahan tinkat produksi terhadap laba yang dilaporkan.

J. Biaya Perolehan atau Nilai PasaR
 Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku atas nilai persediaan adalah menilainya pada biaya perolehan atau nilai pasar, mana yang lebih rendah ( lower of cost or market – LOCOM). penilaian ini dapat mempengaruhi secara signifikan laba berjalan dan nilai persediaan. Aturan LOCOM menyatakan bahwa jika harga pasar  persediaan turun melebihi biaya perolehan persediaan untuk alasan apapun termasuk keusangan, rusak, perubahan harga –maka nilai persediaan diturunkan untuk mencerminkan kerugian ini. Penurunan biaya ini secara efektif dibebankan pada pendapatan periode saat kerugian terjadi. Karena meningkatkan biaya menjadi harga pasar dilarang ( kecuali untuk menutupi kerugian hingga kembali kembali kepada biaya perolehan awal), maka penilaian persediaan menjadi konservatif. Nilai/harga pasar (market) dijabarkan sebagai biaya biaya penggantian terkini melalui pembelian atau reproduksi. Meskipun begitu, nilai pasar tidak boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai realisasi bersih setelah dikurangi margin keuntungan normal. Batas atas nilai pasar, atau nilai realisasi bersih, mencerminkan biaya penyelesaian dan penyerahan yang terkait dengan penjualan barang.  Batas bawah memastikan bahwa jika nilai persediaan diturunkan dari biaya perolehan awal menjadi nilai pasar, angka penurunan yang terjadi mencakup realisasi laba kotor normal atas penjualan yang dilakukan.           Biaya (cost) merupakan biaya perolehan persediaan. Biaya ini dihitung dengan salah satu metode biaya persediaan, misalnya FIFO, atau AVERAGE (rata-rata). Analis persediaan kita harus mempertimbangkan dampak dari aturan LOCOM. Saat harga meningkat, aturan ini cenderung menilai persediaan terlalu rendah tanpa memperhatikan pilihan metode biaya persediaan. Hal ini akan menekan rasio lancar.
Cuplikan analisis:
Usaha awal toro company untuk menjual alat kebersihan salju (snowblowers) tidak berhasil. Toro berangapan bahwa alat pembersih salju merupakan komplemen (pelengkap) usaha alat pemotong rumputnya, terutama setelah curah salju yang begitu tinggi dari tingkat normal selama beberapa tahun terakhir. Toro bereaksi memproduksi alat pembersih salju seolah-olah salju merupakan usaha yang berkembang dan andal seperti tumbuhnya rumput. Tahun disaat alat pembersih salju diperkenalkan, musim dinginnya menghasilkan salju yang lebih sedikit dari biasanya, sehingga baik toro maupun penyalurnya memiliki persediaan barang berlebih. Keuangan beberapa penyalur bahkan sangat tertekan hingga mereka tidak mampu mendanai persediaan alat pemotong rumput untuk musim depan.

Cuplikan analisis:
Tingkat pengembalian barang regina company akhir-akhir ini sangat tinggi karna rendahnya kualitas barang. Petunjuk analitis awal masalah ini terlihat dari adanya kenaikan hanpir dua kali lipat pada persediaan barang jadi dan piutang saat peningkatan penjualan melebihi yang diharapkan. Namun banyak investor, kreditor, dan pihak-pihak lain yang terkejut saat berita msalah ini tersebar luas.
K. Harga Pokok Penjualan
Tujuan pokok akuntansi persediaan adalah menetapkan secara layak hasil usaha selama satu periode dengan mengaitkan pendapatan terhadap biaya untuk memperoleh dan mempertahankan penghasilan tersebut. Dalam akuntansi persediaan harus ditentukan apakah suatu persediaan merupakan beban atau merupakan aktiva. Jika persediaan telah terjual maka persediaan tersebut akan dilaporkan sebagai beban atau merupakan komponen dari harga pokok penjualan, sebaliknya jika persediaan tersebut masih merupakan milik perusahaan (belum terjual) maka akan dilaporkan sebagai aktiva lancar
perusahaan.
Menurut PSAK no 14, jika barang dalam persediaan di jual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Proses pengakuan nilai tercatat persediaan yang telah dijual sebagai beban menghasilkan pengaitan (matching) beban dengan pendapatan. Oleh karena itu dalam menentukan besarnya laba harus dihitung terlebih dahulu besarnya harga pokok penjualan. Persediaan yang dibeli atau ibuat selama suatu periode ditambahkan ke persediaan awal dan jumlah biaya persediaan ini disebut dengan harga pokok barang tersedia untuk dijual. Pada akhir periode akuntansi, jumlah biaya yang tersedia untuk dijual dialokasikan antara persediaan yang masih tersisa (dicatat di neraca sebagai aktiva) dan persediaan yang dijual selama periode (dilaporkan dalam laba rugi sebagai biaya, harga pokok penjualan). Secara ringkas dapat kita ilustrasikan
sebagai berikut:



Penjualan barang dagangan                                                                       XXX
Harga pokok penjualan terdiri dari:
Persediaan 1 Jan 2003                             XXX
Pembelian                                                XXX
(Retur pembelian)                                   (XXX)
(Potongan pembelian)                             (XXX)
Pembelian bersih                                                         XXX
Persediaan tersedia untuk dijual                                  XXX
Persediaan 31 Des 2003                                             (XXX)
Harga pokok penjualan barang dagangan                                                 (XXX)
Laba/(Rugi) kotor                                                                                      XXX
Dalam menentukan harga perolehan dan harga pokok persediaan akan
dipengaruhi oleh sistem pencatatan dan system penilaian persediaan yang
digunakan oleh perusahaan

K. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN
Untuk dapat menetapkan nilai persediaan pada akhir periode dan menetapkan biaya persediaan selama satu periode, sistem persediaan yang digunakan adalah:
  1. Sistem Periodik (physical), yaitu pada setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara phisik untuk menentukan jumlah persediaan akhir. Perhitungan tersebut meliputi pengukuran dan penimbangan barangbarang yang ada pada akhir suatu periode untuk kemudian dikalikan dengan suatu tingkat harga/biaya. Perusahaan yang menerapkan sistem periodik umumnya memiliki karakteristik persediaan yang beraneka ragam namun nilainya relatif kecil. Sebagai ilustrasi adalah kios majalah di sebuah pusat perkantoran dan pertokoan yang menjual berbagai jenis majalah, koran, alat tulis, aksesoris handphone, dan gantungan kunci. Jenis persediaan beraneka ragam namun nilainya relatif kecil sehingga tidaklah efisien jika harus mencatat setiap transaksi yang nilainya kecil namun frekuensi transaksi tinggi. Meskipun demikian sebenarnya pada saat ini alasan tersebut dapat diabaikan dengan adanya teknologi komputer yang meMudahkan pencatatan transaksi dengan frekuensi tinggi, misalnya seperti di toko retail.
  1. Sistem Permanen (Perpetual), yaitu melakukan pembukuan atas persediaan secara terus menerus yaitu dengan membukukan setiap transaksi persediaan baik pembelian maupun penjualan. Sistem perpetual ini seringkali digunakan dalam hal persediaan memiliki nilai yang tinggi untuk mengetahui posisi persediaan pada suatu waktu sehingga perusahaan dapat mengatur pemesanan kembali persediaan pada saat mencapai jumlah tertentu. Misalnya persediaan alat rumah tangga elektronik (mesin cuci, kulkas, microwave).
Perbedaan penggunaan kedua metode adalah pada akun yang digunakan untuk mencatat pembelian persediaan. Pada system pencatatan periodik pembelian persediaan dicatat dengan mendebit akun pembelian sehingga pada kahir periode akan dilakukan penyesuaian untuk mencatat harga pokok barang yang dijual dan melaporkan nilai persediaan pada akhir periode.




PERBEDAAN JURNAL UMUM (METODE PEREODIK DAN PERPETUAL)
metode preiodik
metode perpetual
no
keterangan
debet
kredit
keterangan
debet
kredit
1
pembelian
6,000
persediaan
6,000
kas
6,000
kas
6,000
2
ongkos masuk
300
HPP
300
kas
300
kas
300
3
utang dagang
200
utang dagang
200
      retur pembelian
200
          persediaan
200
4
utang dagang
1,500
utang dagang
1,500
              kas
1,470
kas
1,470
           diskon pembelian
30
  HPP
30
5
piutang dagang
7,000
piutang dagang
7,000
penjualan
7,000
        penjualan
7,000
HPP
5,600
persediaan
5,600
6
retur penjualan
200
retur penjualan
200
piutang dagang
200
        piutang dagang
200
persediaan
160
HPP
160
7
kas
1,950
kas
1,950
diskon penjualan
50
diskon penjualan
50
piutang dagang
2,000
piutang dagang
2,000
8
beban operasional
650
beban oprasional
650
kas
650
kas
650
JURNAL PENYESUAIAN :
metode preiodik
metode perpetual
no
keterangan
debet
kredit
keterangan
debet
kredit
Iktisar L/R
2,000
TIDAK PERLU DI BUAT
PERSEDIAAN
2,000
PERSEDIAAN
2,360
Iktisar L/R
2,360

Laporan laba-rugi
METODE PERIODIK
METODE PERPETUAL
PENJUALAN
xxx
PENJUALAN
xxx
RETUR PENJUALAN
(xxx)
RETUR PENJUALAN
(xxx)
POT. PENJUALAN
(xxx)
POT. PENJUALAN
(xxx)
PENJUALAN BERSIH
xxx
PENJUALAN BERSIH
xxx
HARGA POKOK PENJUALAN
HARGA POKOK PENJUALAN
(xxx)
PERS. Barang awal
xxx
LABA KOTOR
xxx
pembelian
xxx
ongkos angkut
(xxx)
potongan pembelian
(xxx)
barang tersedia dijual
xxx
Pers. Barang  akhir
(xxx)
HARGA POKOK PENJUALAN
(xxx)
LABA KOTOR
xxx


a. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN SISTEM FISIK ( PEREODIK)
Untuk menentukan nilai persediaan barang pada akhir periode menurut system pisik
adalah sebagai berikut :
1. Metode Tanda Pengenal Khusus
2. Metode RataRata
3. Metode MPKP ( FIFO )
4. Metode MTKP ( LIFO )
5. Metode Persediaan Dasar.
1. Metode Tanda Pengenal Khusus
Dalam metode tanda pengenal khusus ( specific identification ) setiap barang yang dibeli atau yang masuk diberi kode / tanda pengenal yang menunjukkan harga per satuan sesuai faktur yang diterima. Pada metode ini sudah jelas harga per satuannya Dengan demikian untuk mengetahui jumlah atau nilai persediaan pada akhir periode tinggal mengalikan jumlah barang yang masih ada dengan harga yang tercantum dalam etiket barang tersebut.
2. Metode RataRata
a. Metode RataRata Sederhana
     Dalam metode ini harga barang ditentukan dengan cara membagi jumlah harga beli per satuan setiap transaksi pembelian dan persediaan awal dengan frekwensi pembelian dan persediaan awal periode.
b. Metode Rata-Rata Tertimbang
Dalam metode ini harga barang ditentukan dengan cara membagi jumlah harga barang yang tersedia untuk dijual yakni jumlah persediaan awal ditambah jumlah pembelian dengan kuantitas barang tersebut

3. Metode MPKP ( FIFO )
Dalam metode ini, barang yang lebih dulu masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk belakangan. Jadi harga pokok barang yang keluar (dijual) dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli lebih dahulu, sesuai dengan jumlah pembeliannya. Atau dengan kata lain nilai persediaan akhir barang didasarkan pada harga barang yang dibeli terakhir, sesuai dengan jumlah unitnya.



4. Metode MPKP ( LIFO )
Dalam metode ini, barang yang terakhir masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk lebih awal. Sehingga harga pokok barang yang terjual dihitung berdasarkan pada harga barang yang dibeli terakhir sesuai dengan jumlah unitnya, atau nilai persediaan barnag didasarkan pada harga barang yang dibeli pada awal, sesuai dengan jumlah unitnya.

5. Metode Persediaan Dasar ( Basic Stock )
Disebut juga sebagai persediaan besi yakni persediaan minimum yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk menjaga likuiditas perusahaannya. Dalam metode Ini keterlambatan masuknya barang yang disebabkan adanya kemacetan atau sebabsebab lain tidak mengganggu persediaan sehingga perusahaan masih dapat melayani pelanggan atau pembeli.
Dalam metode ini persediaan akhir dihitung berdasarkan harga pokok yang ditetapkan. Adapun selisih antara persediaan barang yang ada dengan persediaan dasar dinilai dengan harga menurut metode yang dikehendaki ( Metode ratarata, MPKP, MTKP, harga pasar dll ).

b.  PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN SISTEM PERPETUAL
Dalam sistem perpetual setiap terjadi mutasi persediaan dicatat dalam akun persediaan. Metode penilaian persediaan digunakan pada saat terjadi transaksi penjualan, dengan membuat Kartu Persediaan Barang secara lengkap yang memuat kuantitas, harga satuan, jumlah harga baik untuk lajur masuk, keluar, maupun sisa. Kartu persediaan tersebut sebagai buku pembantu untuk tiap macam barang digunakan atau yang dijual. Sehingga apabila perusahaan memiliki 15 jenis barang, maka harus membuat Kartu Persediaan barang sebanyak 15.
Format Kartu Persediaan adalah sebagai berikut :
KARTU PERSEDIAAN (STOCK CARD)
NAMA BARANG:
METODE PENCATATAN :
HARGA JUAL :
TGL
KETERANGAN
MASUK
KELUAR
SALDO
UNIT
HARGA
JUMLAH
UNIT
HARGA
JUMLAH
UNIT
HARGA
JUMLAH












Metode penilaian persediaan dalam pencatatan secara perpetual sebagai berikut :
1. Metode RataRata bergerak ( Moving Average )
      Dalam metode ini, harga beli ratarata dihitung setiap terjadi transaksi
pembelian. Harga pokok penjualan per satuan didasarkan pada harga ratarata pada saat terjadi transaksi penjualan.
2. Metode FIFO
       Metode ini beranggapan barang yang ada paling awal dianggap dijual paling awal juga. Perbedaanya adalah dalam metode perpetual perhitungan harga pokok dilakukan pada saat terjadi penjualan.
3. Metode LIFO
      Pada metode ini barang yang terakhir dibeli dianggap dijual lebih dahulu. Harga pokok dihitung pada saat terjadi penjualan


c. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN METODE TAKSIRAN
          Penetapan harga pokok persediaan dengan metode cost mengharuskan perusahaan untuk mengadakan perhitungan secara pisik atas persediaan, umumnya memerlukan waktu lama dan biaya yang besar . Pada perusahaan tertentu seperti Toserba atau swalayan, metode cost dirasa kurang praktis atau tidak efisien. Untuk itu diperlukan metode lain, yakni metode Taksiran, khususnya dalam penilaian persediaan pada laporan intern. Dalam metode ini dapat digunakan dua cara yakni :
a. Metode Eceran
b. Metode Laba kotor.

Metode Eceran
Metode ini banyak digunakan pada perusahaanperusahaan besar seperti toserba atau
swalayan yang memperdagangkan puluhan bahkan ratusan jenis barang. Dalam hal ini setiap jenis barang yang ada dilekati label harga jual eceraannya sehingga pelayan toko lebih tahu harga jual eceran dari pada harga pokoknya dan lebih mudah baginya membuat laporan atas barang yang masih ada berdasarkan harga eceran tersebut .
Prosedur penilaian persediaan :
  • Atas persediaan awal , selain diketahui harga pokoknya, juga diketahui harga jual ecerannya
  • Setiap terjadi transaksi pembelian harus diketahui jumlah harga jualnya
  •  Dihitung barang tersedia untuk dijual menurut harga beli dan menurut harga jual.
  •  Dihitung prosentase harga pokok terhadap harga jual dengan rumus :
    
 Harga Pokok Persediaan Barang Tersedia dijual
                                                                                             X 100 % = ………%
           Harga jual barang tersedia dijual

  • Prosentase harga pokok dengan harga jual tersebut digunakan untuk menaksir harga pokok persediaan yang ada pada kahir akhir suatu periode.
Metode Laba Kotor ( Gross Profit Method )
Dalam metode ini konsep yang digunakan adalah konsep hubungan antara harga pokok dan harga jual. Besarnya prosentase laba kotor umumnya didasarkan prosentase laba-laba tahun lalu.

Metode laba kotor dapat bermanfaat dalam kondisi berikut ini :
a)      Perusahaan memerlukan laporan persediaan untuk keperluan intern bila perusahaan menggunakan sistem periodik. Atau untuk melihat persedian bulanan,sedang biaya stock opname sangat mahal.
b)      Persediaan rusak atau musnah akibat kebakaran, pencurian, bencana alam dll.
c)       Untuk menguji keabsahan angka persediaan yang dihitung dengan cara lain.
Dalam metode laba kotor besarnya prosentase laba kotor dapat dihitung dengan
  • Prosentase laba kotor dari harga jual
  • Prosentase laba kotor dari harga pokok.

Prosentase laba kotor dihitung dari harga Jual
Dalam metode ini harga jual adalah 100%, sedangkan Harga pokok barang yang dijual adalah 100% dikurangi laba kotor, atau persen laba kurang dari 100. Cara menentukan nilai persediaan akhir adalah sebagai berikut :
  1. Dihitung lebih dahulu jumlah barang tersedia untuk dijual dengan jalan menambahkan persediaan barang daganga awal tahun ditambah pembelian bersih tahun berjalan.
  2. Dihitung harga pokok barang yang dijual dengan cara jumlah penjualan dikurangi persentase dikali jumlah penjualan.
  3. Dihitung nilai persediaan akhir barang dagangan, yakni barang tersedia untuk dijualdikurang harga pokok barang yang sudah dijual.



Persentase laba kotor dihitung dari harga Pokok.
Bila persentase laba kotor ditentukan dari harga pokok , besarnya harga jual adalah harga pokok ( 100% ) ditambah prosentase laba. Jadi harga jual lebih dari seratus persen atau disebut persen laba diatas seratus.

Simpulan

Persediaan (inventory), adalah meliputi semua barang yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu, dengan tujuan untuk dijual atau dikonsumsi dalam siklus operasi normal perusahaan. Aktiva lain yang dimiliki perusahaan, tetapi tidak untuk dijual atau dikonsumsi tidak termasuk dalam klasifikasi persediaan. Persediaan merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan.
Dengan gambaran tersebut maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
1. Bahan baku (direct material)
2. Barang dalam proses (work in proses)
3. Barang jadi (finished goods).

Metode yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan persediaan ada dua, yaitu:
1. Metode Stock Opname atau Metode Periodik (Fisik)
2. Metode Perpetual.

Masalah kepemilikan barang dalam perjalanan (Goods in transit) sangat tergantung dari perjanjian yang disepakati oleh penjual dan pembeli. 2 syarat tersebut adalah (1) Fob Shipping Point dan (2) Fob Destination. Tidak semua barang yang berada di gudang/toko bisa diakui menjadi milik perusahaan, misalnya barang titipan (barang konsinyasi) dari pihak lain dengan tujuan akan dijual untuk dan atas nama pihak lain tersebut dengan mendapatkan sejumlah komisi (consignment in) tidak dapat diakui sebagai milik perusahaan. Sebaliknya untuk barang yang sifatnya consigment out, yang sampai dengan tanggal neraca belum terjual harus dicantumkan di Neraca.
Sistem pencatatan (administrasi) persediaan ada dua, yang pertama sistem fisik/periodik (periodic inventory system), berdasarkan sistem ini persediaan ditentukan dengan melakukan menghitung fisik terhadap persediaan.

Sumber : http://fadhlanaccounting.wordpress.com/akuntansi-persediaan/

Nama : Dewi Rahayu
No     : 08
Kls    : XII AK 1

3 komentar:

  1. trimakasi. Artikelnya membantu saya memahami lebih dalam.

    BalasHapus
  2. Bisa dilengkapi dengan referensi atau daftar pustakanya...??

    BalasHapus
  3. Bisa dilengkapi dengan referensi atau daftar pustakanya...??

    BalasHapus